ESTORIA - Indonesia kembali mencetak sejarah di sektor energi. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan Indonesia menjadi negara pertama sekaligus satu-satunya di dunia yang berani menerapkan biodiesel 50 persen atau B50 untuk berbagai sektor industri dan transportasi.
 

Langkah ambisius itu menandai babak baru transisi energi nasional, di tengah upaya global menekan emisi karbon dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

 

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan, pemerintah kini tengah mempercepat uji jalan atau road test penggunaan campuran solar dengan biodiesel B50 sebelum resmi diterapkan secara nasional.

 

“Ini adalah contoh yang sangat bagus. Ini yang pertama di dunia. Tidak ada negara yang menggunakan 50 persen biodiesel untuk dicampur ke dalam solar,” ujar Eniya dalam ajang The 50th IPA Convention & Exhibition di Tangerang.
 

Uji coba tersebut dilakukan serentak di enam sektor strategis untuk memastikan kesiapan mesin dan infrastruktur penunjang. Sektor yang diuji meliputi otomotif, alat mesin pertanian, mesin industri, transportasi maritim, alat berat pertambangan, perkeretaapian, hingga pembangkit listrik.
 

Menurut Eniya, implementasi mandatori B50 ditargetkan mulai berjalan pada Juli 2026, meningkat dari program B40 yang saat ini telah diterapkan pemerintah.

 

Tak hanya menjadi tonggak baru dalam pemanfaatan energi terbarukan, kebijakan B50 juga diyakini membawa dampak ekonomi besar bagi Indonesia. Berdasarkan data Kementerian ESDM, penerapan B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun.
 

Selain itu, program tersebut diperkirakan membuka lebih dari 2,2 juta lapangan kerja baru di berbagai sektor, mulai dari industri sawit, distribusi energi, hingga sektor manufaktur dan transportasi.

 

Dari sisi lingkungan, penggunaan B50 ditargetkan mampu memangkas emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO2 sepanjang 2026. Pemerintah juga menyebut penggunaan biodiesel kini mulai mendapat pengakuan internasional sebagai instrumen pengurangan emisi.

 

“Kabar baiknya adalah IMO sekarang menerima biodiesel ini sebagai alat yang dapat kita gunakan untuk mengurangi emisi,” kata Eniya.
 

Hingga pertengahan April 2026, realisasi penyaluran biodiesel nasional tercatat mencapai 3,90 juta kiloliter atau sekitar 24,9 persen dari total alokasi tahunan sebesar 15,65 juta kiloliter.
 

Secara teknis, pemerintah juga memperketat spesifikasi kualitas B50 demi menjaga performa mesin tetap optimal. Kadar air ditekan maksimal 300 ppm, sementara kandungan monogliserida dibatasi maksimal 0,47 persen massa. Stabilitas oksidasi bahan bakar pun diperkuat menjadi minimal 900 menit agar tetap aman selama distribusi dan penyimpanan.
 

Pemerintah menargetkan uji coba sektor otomotif selesai pada Juni 2026. Sementara pengujian di sektor alat berat, kereta api, dan sektor strategis lainnya dilakukan bertahap hingga akhir tahun.
 

Dengan hasil uji sementara yang disebut menunjukkan performa aman dan andal, pemerintah optimistis B50 akan menjadi tulang punggung baru kemandirian energi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor energi hijau dunia.