ESTORIA - Pelatih tim nasional Iran, Amir Ghalenoei, melontarkan kritik keras kepada Amerika Serikat usai timnya gagal melaju ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Ghalenoei menilai tuan rumah memperlakukan Iran secara tidak adil sepanjang turnamen dan mendesak FIFA agar tidak membiarkan hal serupa kembali terjadi.

 

Usai laga terakhir fase grup, Ghalenoei mengungkapkan kekecewaannya terhadap berbagai kebijakan yang dinilai menyulitkan skuad berjuluk The Melli. Menurutnya, perlakuan yang diterima Iran jauh berbeda dibandingkan peserta lainnya.

 

"Tuan rumah tidak memperlakukan kami dengan baik," ujar Ghalenoei, seperti dikutip dari Al Jazeera, Minggu (28/06/2026).

 

Ia pun meminta Presiden FIFA Gianni Infantino mengambil langkah tegas agar negara tuan rumah di masa mendatang tidak bertindak semena-mena terhadap tim peserta.

 

"Saya mendesak FIFA agar tidak membiarkan tuan rumah memperlakukan tim dan pemain seperti yang kami alami. Saya berharap Infantino benar-benar menindak perilaku seperti itu," katanya.

 

Sebelum turnamen dimulai, FIFA sempat menetapkan Iran bermarkas di Tucson, Arizona, Amerika Serikat. Namun, otoritas AS kemudian meminta agar markas Iran dipindahkan ke Tijuana, Meksiko.

 

Keputusan tersebut membuat Iran menghadapi persoalan logistik yang cukup berat. Selama fase grup, skuad Iran harus bolak-balik dari Meksiko ke Amerika Serikat setiap kali menjalani pertandingan dan tidak diizinkan menginap di wilayah AS, baik sebelum maupun sesudah laga.

 

Situasi itu membuat perjalanan tim menjadi jauh lebih melelahkan dibandingkan peserta lainnya.

Tak hanya soal akomodasi, Ghalenoei juga mengungkapkan kekecewaannya karena permintaan Iran untuk mengenakan pita hitam saat menghadapi Mesir bertepatan dengan peringatan Hari Asyura—tidak mendapat izin.

 

Di sisi lain, pada hari yang sama berlangsung parade PrideFest yang berafiliasi dengan kelompok LGBTQ di luar stadion tempat pertandingan Iran melawan Mesir digelar. Meski tidak ada perayaan khusus di dalam stadion, keberadaan parade tersebut turut menjadi sorotan.

 

Iran akhirnya menutup fase grup dengan hasil imbang melawan Mesir. Tambahan satu poin itu belum cukup membawa mereka ke babak 32 besar karena kalah selisih gol dalam perebutan posisi peringkat ketiga terbaik.

 

Meski tersingkir, Ghalenoei tetap memberikan apresiasi kepada para pemainnya yang dinilai mampu tampil kompetitif di tengah berbagai kendala.

 

"Apa yang dilakukan para pemain muda ini harus tercatat dalam sejarah karena negara tuan rumah memperlakukan kami dengan sangat tidak adil," ujarnya.

 

"Perilaku mereka terhadap kami sungguh mengerikan. Kami berharap dunia menyadari hal itu. Terlepas dari semua masalah tersebut, kami tetap mampu tampil baik, dan dunia bangga kepada rakyat Iran," tambahnya.