ESTORIA - Penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) kembali menjadi sorotan tajam sepanjang fase grup Piala Dunia FIFA 2026. Alih-alih meredam polemik, sejumlah keputusan yang diambil melalui bantuan video justru memicu gelombang kritik dari berbagai tim peserta karena dinilai mengubah jalannya pertandingan hingga memengaruhi peluang lolos ke babak gugur.
Dikutip dari berbagai sumber, salah satu kontroversi terbesar dialami Timnas Iran saat menghadapi Mesir. Harapan Iran untuk mengamankan hasil positif sirna setelah gol penyeimbang yang dicetak Shoja Khalilzadeh pada menit-menit akhir dianulir. Wasit, setelah meninjau VAR, memutuskan sang pemain berada dalam posisi offside sehingga gol tersebut tidak disahkan.
Kontroversi serupa juga mewarnai pertandingan Kolombia kontra Portugal. Sundulan Davinson Sánchez yang sempat membawa Kolombia unggul akhirnya dibatalkan karena VAR mendeteksi posisi offside yang sangat tipis, hanya terpaut ujung kaki. Keputusan itu membuat Kolombia gagal mengamankan kemenangan yang berpotensi mempertahankan rekor sempurna mereka di fase grup.
Kekecewaan juga dirasakan Timnas Ghana ketika menghadapi Inggris. Ghana merasa seharusnya mendapat hadiah penalti setelah terjadi kontak di dalam kotak terlarang. Namun, wasit tetap melanjutkan pertandingan tanpa menunjuk titik putih, sementara VAR juga tidak memberikan rekomendasi peninjauan ulang.
Pelatih Ghana, Carlos Queiroz, meluapkan kekesalannya usai laga. Ia menyindir kinerja perangkat VAR dengan komentar pedas.
"VAR seperti sedang minum kopi," ujar Queiroz, menggambarkan frustrasinya terhadap keputusan wasit, Senin (29/06/2026).
Di laga lain, Brasil turut menjadi pihak yang merasa dirugikan. Gol Vinícius Júnior dianulir karena dianggap terjadi pelanggaran ringan dalam proses terciptanya gol. Keputusan tersebut memancing protes keras dari Federasi Sepak Bola Brasil yang mendesak FIFA melakukan evaluasi terhadap konsistensi penerapan VAR sepanjang turnamen.
Kontroversi juga terjadi dalam duel Ekuador melawan Jerman. Gol Leroy Sané tetap disahkan meski sebelumnya muncul dugaan pelanggaran berbahaya dalam proses serangan. VAR memilih tidak melakukan intervensi, keputusan yang memicu protes keras dari kubu Ekuador.
Rangkaian insiden tersebut semakin memperpanjang daftar polemik penggunaan VAR di Piala Dunia 2026. Teknologi yang awalnya diharapkan mampu menghadirkan keputusan lebih akurat justru kembali dipertanyakan karena dianggap belum diterapkan secara konsisten di setiap pertandingan.