estoria.id  -  Prestasi membanggakan datang dari dunia pendidikan Indonesia. Seorang siswa kelas 6 sekolah dasar asal Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, berhasil menemukan celah keamanan (bug) pada salah satu sistem publik milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

 

Bocah berusia 12 tahun bernama Ibrahim Al Abrar atau akrab disapa Ibra itu bahkan menerima Letters of Recognition (LOR) atau surat apresiasi resmi dari NASA tertanggal 9 Juli 2026 setelah temuannya dinyatakan valid melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP).

 

Keberhasilan tersebut bermula dari ketertarikannya mempelajari dunia cybersecurity sejak awal 2026. Sebelumnya, Ibra hanya menghabiskan waktu bermain gim di telepon genggam. Namun rasa penasaran membawanya belajar membuat gim, kemudian mendalami coding hingga keamanan siber secara otodidak.

 

"Aku belajar cybersecurity dari saran kakak-kakak di komunitas online. Awalnya juga sering lihat berita orang-orang yang menemukan bug di NASA, jadi ingin mencoba sendiri," ujar Ibra, Jumat (17/06/2026).

 

Usahanya tidak langsung membuahkan hasil. Ia mengaku beberapa kali mengirim laporan sebelum akhirnya menemukan kerentanan berupa broken link hijacking pada salah satu domain publik NASA

 

Temuan tersebut kemudian dilaporkan melalui program VDP dan setelah proses verifikasi hampir dua bulan, NASA mengirimkan surat penghargaan sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam meningkatkan keamanan sistem mereka.

 

"Dapat apresiasi berupa sertifikat," kata Ibra singkat.

 

Dalam proses belajar, Ibra juga mengaku sempat mengalami banyak kesulitan karena belum memahami materi keamanan siber. Ia kemudian memanfaatkan berbagai sumber belajar, mulai dari tutorial YouTube hingga bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memperdalam pengetahuannya.

 

Sang ayah, Aminudin, yang merupakan guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMKN Kemusu, mengaku bangga atas pencapaian putranya. Menurutnya, Ibra baru serius mendalami cybersecurity pada awal tahun ini setelah sebelumnya fokus belajar coding.

 

"Dia menemukan kerentanan berupa broken link hijacking di web NASA, kemudian dilaporkan melalui VDP. Laporannya sudah hampir dua bulan, lalu pada 9 Juli mendapat balasan berupa sertifikat dari NASA," jelas Aminudin.

 

Ia berharap pencapaian tersebut menjadi penyemangat bagi putranya untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang teknologi informasi sekaligus menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia lainnya yang memiliki minat di dunia IT.

 

Sementara itu, berdasarkan informasi di laman resmi NASA, Vulnerability Disclosure Policy (VDP) merupakan program yang memberikan kesempatan kepada peneliti keamanan siber dari seluruh dunia untuk melaporkan kerentanan pada sistem NASA secara bertanggung jawab.

 

NASA menjelaskan bahwa tidak semua laporan akan memperoleh Letters of Recognition. Surat penghargaan hanya diberikan kepada laporan dengan tingkat prioritas P1 hingga P4 yang telah diverifikasi, diterima, dan dipastikan telah diperbaiki. Laporan yang bersifat duplikat atau merupakan masalah yang sudah diketahui sebelumnya tidak memenuhi syarat menerima penghargaan tersebut.

 

Prestasi Ibra menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkarya di bidang teknologi. Dengan semangat belajar dan memanfaatkan berbagai sumber pengetahuan, seorang siswa sekolah dasar dari Boyolali mampu mencatatkan namanya sebagai kontributor keamanan siber bagi salah satu lembaga antariksa paling bergengsi di dunia.