ESTORIA - Di antara ribuan jemaah yang memadati Kota Makkah pada musim haji 2026, ada kisah berbeda dari rombongan asal Sumenep. Tanpa pendampingan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), puluhan jemaah memilih menempuh jalur haji mandiri. Di balik pilihan itu, muncul sosok-sosok muda yang justru menjadi tumpuan para lansia di Tanah Suci.
Salah satunya adalah Moh Kamil. Usianya belum genap 30 tahun, tetapi ia dipercaya menjadi ketua rombongan bagi 43 jemaah haji mandiri yang tergabung dalam Kloter SUB 77.
Di tengah padatnya aktivitas ibadah dan rumitnya mobilitas di Arab Saudi, Kamil tidak hanya mengurus dirinya sendiri. Ia ikut memastikan para jemaah lain, terutama lansia, tetap memahami alur perjalanan ibadah dengan baik.
“Awalnya saya juga sempat berpikir lebih aman kalau ada pendamping dari KBIHU. Tapi setelah bertemu petugas kloter, kami merasa cukup terbantu,” ujar Kamil di Makkah, Kamis (14/5/2026).
Pilihan berhaji mandiri ternyata dipersiapkan cukup matang. Sebelum berangkat, Kamil kembali memperdalam manasik kepada guru-gurunya di pesantren. Bekal pengajian dan madrasah diniyah yang sejak kecil ia jalani kini menjadi pegangan untuk membantu jemaah lain memahami tahapan ibadah haji.
Namun tantangan terbesar justru bukan soal ritual ibadah, melainkan cara menyampaikan informasi kepada para jemaah lansia yang sebagian besar belum akrab dengan teknologi digital.
Kondisi itu membuat Kamil dan timnya mencari cara sederhana agar informasi lebih mudah dipahami. Mereka membuat video pendek menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Madura.
Isinya praktis dan dekat dengan kebutuhan sehari-hari jemaah. Mulai dari cara menggunakan lift hotel, menyiapkan koper, mengenali jalur menuju Masjidil Haram, hingga penggunaan fasilitas di Arab Saudi.
“Kalau dijelaskan panjang lewat tulisan, banyak yang kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video sederhana,” katanya.
Cara itu terbukti efektif. Para lansia yang awalnya kesulitan menggunakan aplikasi pesan singkat maupun panggilan video perlahan mulai bisa beradaptasi selama berada di Tanah Suci.
Cerita serupa datang dari Suwaris Bahir, jemaah asal Sumenep yang sehari-hari bekerja di sektor perikanan. Ia mengaku sejak awal mantap memilih jalur haji mandiri karena merasa pembekalan manasik dari pemerintah sudah cukup membantu.
“Mulai dari naik pesawat, fasilitas hotel, sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan semua,” ujarnya.
Menurut Suwaris, pendampingan petugas kloter selama di Tanah Suci juga membuat para jemaah merasa lebih tenang. Bahkan, ia menilai jalur mandiri memberi ruang lebih fleksibel dibanding mengikuti KBIHU.
“Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih dari cukup,” ucapnya.
Sementara itu, kisah haru datang dari E.A.A. Nurhayati Haddjad, seorang dosen asal Sumenep yang berangkat haji menggantikan almarhum ayahnya. Porsi haji yang awalnya milik sang ayah dilimpahkan kepadanya setelah ayahnya meninggal dunia.
Di tengah kesibukan mengajar dan merawat ibunya yang sedang sakit stroke, Nurhayati tetap mempersiapkan diri secara perlahan sebelum berangkat ke Tanah Suci. Ia rutin berjalan kaki mengelilingi desa dan taman kota demi menjaga stamina.
“Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja,” katanya sambil tersenyum.
Selain latihan fisik, Nurhayati aktif mencari informasi lewat media sosial dan grup jemaah. Menurutnya, akses digital sangat membantu jemaah mandiri memahami situasi terbaru selama di Arab Saudi.
Namun, yang paling membekas baginya justru suasana kebersamaan antarsesama jemaah. Pada malam hari, ia kerap membantu anggota rombongan lain mengisi identitas atau membaca dokumen perjalanan.
“Dari situ malah jadi dekat satu sama lain,” ujarnya.
Ketua Kloter SUB 77, Asnawi, mengungkapkan bahwa kekompakan jemaah mandiri memang dibangun jauh sebelum keberangkatan. Menurutnya, mendampingi rombongan tanpa KBIHU membutuhkan pendekatan yang lebih intens, terlebih sebagian besar anggota kloter merupakan lansia.
Karena itu, para petugas lebih dulu membangun koordinasi internal sebelum mengumpulkan ketua regu dan ketua rombongan untuk menyamakan pemahaman.
“Kami tanamkan bahwa setiap ketua rombongan adalah kiai bagi kelompoknya masing-masing,” ujar Asnawi.
Pendekatan itu diperkuat dengan kunjungan rutin ke desa-desa hingga wilayah kepulauan di Sumenep selama beberapa bulan sebelum keberangkatan. Petugas datang langsung memberikan simulasi manasik, tambahan pemahaman, sekaligus membangun kedekatan emosional dengan para calon jemaah.
Kini, hasilnya mulai terlihat di Makkah. Di tengah jutaan manusia dari berbagai negara, para jemaah mandiri asal Sumenep itu justru tampil lebih tertib, kompak, dan saling menjaga satu sama lain selama menjalankan ibadah haji.