ESTORIA - Misteri kematian RJS (50), Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemerintah Kabupaten Bangkalan, memasuki babak baru. Hasil visum mengungkap adanya dugaan kekerasan pada tubuh korban, sementara rekaman CCTV memperlihatkan seorang pria misterius mengendarai mobil dinas yang belakangan menjadi lokasi ditemukannya jenazah RJS di Terminal 1 Bandara Internasional Juanda.
Temuan-temuan tersebut membuat keluarga semakin yakin bahwa kematian RJS bukanlah peristiwa biasa. Mereka bahkan menduga Bandara Juanda bukan lokasi korban mengembuskan napas terakhir, melainkan hanya tempat pembuangan jenazah.
Ketua Tim Humas RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, AKBP Ni Made Wiatini, mengungkapkan hasil pemeriksaan luar menemukan luka robek pada cuping telinga kiri yang diduga akibat benturan benda tumpul.
"Dari pemeriksaan luar ditemukan luka robek pada cuping telinga kiri yang diduga akibat kekerasan benda tumpul. Selain itu, terdapat pelebaran pembuluh darah pada kedua selaput lendir kelopak mata," ujar Ni Made, Kamis (25/06/2026).
Tak hanya itu, tim forensik juga menemukan bibir korban berwarna kebiruan. Kondisi tersebut lazim dijumpai pada korban yang mengalami gangguan pernapasan atau mati lemas (asfiksia).
Pemeriksaan organ dalam turut memperlihatkan lidah, epiglotis, saluran napas bagian atas, hingga dinding lambung berwarna merah kehitaman. Meski demikian, penyebab pasti kematian masih belum dapat dipastikan karena penyidik masih menunggu hasil laboratorium forensik.
"Seluruh organ tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda pembusukan. Perut yang tampak membesar bukan karena kehamilan, melainkan akibat proses pembusukan jenazah," jelas Ni Made.
Di tengah hasil visum tersebut, keluarga korban mengaku menemukan sejumlah kejanggalan lain yang semakin memperkuat dugaan adanya tindak pidana.
Kuasa hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya, mengungkapkan bahwa polisi telah memperlihatkan rekaman CCTV kepada keluarga. Dalam rekaman di pintu masuk Bandara Juanda, mobil dinas Toyota Innova hitam bernomor polisi M 1090 GP terlihat dikemudikan seorang pria seorang diri.
"Laki-laki itu yang ngambil tiket parkir. Tangan kirinya pegang setir, tangan kanannya mengambil tiket. Pakai masker putih, berkacamata minus, kaus warna biru, tidak memakai topi dan rambutnya ikal," kata Risang.
Yang membuat keluarga curiga, RJS sama sekali tidak terlihat dalam rekaman tersebut. Padahal jenazah korban kemudian ditemukan di kursi penumpang depan sebelah kiri mobil.
Menurut Risang, besar kemungkinan kursi penumpang telah direbahkan sejak awal sehingga tubuh korban tidak terlihat dari luar kendaraan.
"Berarti memang dari awal joknya sudah direbahkan sehingga korban tidak kelihatan," ujarnya.
Kecurigaan itu semakin menguat setelah rekaman CCTV di area parkir memperlihatkan hanya pria tersebut yang keluar dari kendaraan. Tidak ada seorang pun yang terlihat keluar dari sisi penumpang.
"Hanya orang itu saja yang keluar. Tidak ada yang keluar dari kursi penumpang," ungkapnya.
Usai meninggalkan mobil, pria tersebut diduga berpindah menggunakan taksi dan meninggalkan kawasan bandara.
Tak hanya soal CCTV, keluarga juga mempertanyakan hilangnya sejumlah perhiasan korban. Gelang dan kalung yang menurut keluarga masih dikenakan RJS saat terakhir kali melakukan panggilan video sebelum hilang kontak, tidak ditemukan ketika jenazah diautopsi.
"Saat autopsi yang diserahkan ke keluarga hanya anting kanan dan cincin di tangan kiri. Gelang dan kalung sudah tidak ada," kata Risang.
Sebaliknya, dompet dan telepon genggam korban masih ditemukan dan telah diamankan penyidik. Menurut Risang, isi ponsel korban diyakini akan menjadi petunjuk penting untuk mengungkap siapa orang terakhir yang berkomunikasi dengan RJS sebelum meninggal dunia.
Berdasarkan seluruh fakta yang terkumpul, keluarga meyakini lokasi penemuan jenazah bukanlah tempat korban meninggal.
"Kami menduga TKP sebenarnya bukan di Bandara Juanda. Korban kemungkinan sudah meninggal di tempat lain, kemudian jenazahnya dibawa dan ditinggalkan di area parkir bandara," tegas Risang.
Ia juga menilai hasil visum sementara semakin memperkuat dugaan bahwa kematian RJS tidak terjadi secara alami.
"Ada indikasi kekerasan dan indikasi kematian yang tidak wajar. Diungkapkan di situ lazim ditemukan pada korban mati lemas atau kekurangan oksigen (asfiksia)," ujarnya.
Meski belum mengumumkan secara resmi, Risang mengaku telah memperoleh informasi dari penyidik bahwa sosok yang diduga terkait dengan perkara tersebut telah berhasil diidentifikasi.
"Kabarnya hanya mengatakan sudah teridentifikasi," pungkasnya.
Hingga kini, kepolisian masih menunggu hasil laboratorium forensik untuk memastikan penyebab kematian RJS sekaligus mengungkap peran pria yang terekam CCTV dalam kasus yang menyita perhatian publik tersebut.