ESTORIATNI mengakui menerapkan hukuman fisik bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) selama mengikuti latihan dasar militer (latsarmil). Sanksi tersebut diberikan kepada peserta yang melanggar aturan, mulai dari terlambat mengikuti apel hingga tidak mengikuti makan bersama.

 

Komandan Batalyon Latihan SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Brigif 1 Marinir Cilandak, Letkol (Mar) Agus Mutaqin, mengatakan hukuman fisik berupa push up diberikan sebagai bagian dari pembinaan disiplin, bukan untuk menyakiti peserta.

 

"Kalau ada yang terlambat apel pagi, misalnya karena ketiduran, kami berikan hukuman push up 10 sampai 15 kali," ujar Agus saat dikonfirmasi, Jumat (26/06/2026).

 

Menurutnya, pembentukan karakter disiplin menjadi salah satu tujuan utama selama pendidikan berlangsung. Karena itu, setiap pelanggaran akan diberikan sanksi yang bersifat mendidik agar tidak terulang.

 

Tak hanya keterlambatan apel, peserta yang tidak makan bersama juga dapat dikenai hukuman. Agus menjelaskan, makan merupakan bagian dari program pembinaan fisik sehingga wajib diikuti seluruh peserta.

 

Ia menyebut, dalam kondisi tertentu hukuman bahkan dapat diberikan secara kolektif sebagai bentuk pembelajaran kedisiplinan kelompok. Meski demikian, Agus menegaskan bentuk hukuman yang diterapkan kepada peserta SPPI berbeda dengan hukuman yang biasa diterima prajurit TNI dan disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing peserta.

 

Selain sanksi, pelatih juga memberikan penghargaan kepada peserta yang menunjukkan prestasi selama menjalani pendidikan guna meningkatkan motivasi.

 

Pengakuan TNI mengenai penerapan hukuman fisik ini mencuat di tengah sorotan publik terhadap penyelenggaraan latsarmil SPPI. Hingga kini, lima peserta SPPI dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar militer di sejumlah lokasi pendidikan.

 

Kementerian Pertahanan sebelumnya menyatakan kelima peserta meninggal akibat masalah kesehatan yang berbeda-beda, seperti serangan jantung, gangguan pernapasan, hingga penyakit bawaan. Namun, rentetan kematian tersebut memicu perhatian publik dan mendorong evaluasi terhadap pelaksanaan latihan dasar militer bagi peserta SPPI.

 

Menanggapi hal itu, Agus memastikan penyelenggaraan latsarmil di Brigif 1 Marinir Cilandak tetap berlangsung aman dan seluruh prosedur keselamatan diterapkan secara ketat.

 

Sebagai langkah pencegahan, seluruh peserta menjalani pemeriksaan kesehatan sejak hari pertama, meliputi kondisi fisik, tekanan darah, hingga penelusuran riwayat penyakit kronis.

 

Peserta yang memiliki riwayat penyakit tertentu dipisahkan dari kegiatan lapangan yang membutuhkan kemampuan fisik tinggi. Mereka tetap mengikuti seluruh materi pembelajaran di dalam kelas agar tidak tertinggal materi pendidikan.

 

Selama menjalani latsarmil, peserta mengikuti jadwal yang padat mulai pukul 04.30 WIB hingga 21.30 WIB. Aktivitas diawali dengan ibadah, olahraga, pembinaan fisik, sarapan, apel pagi, latihan peraturan baris-berbaris (PBB), pembelajaran di kelas, pengasuhan, pembinaan karakter, hingga evaluasi pada malam hari.

 

Program latihan dasar militer SPPI berlangsung selama 30 hari. Pendidikan dimulai secara serentak pada 16 Juni 2026 dan dijadwalkan berakhir pada pertengahan Juli 2026.