ESTORIA - Situasi politik di Filipina kian memanas menjelang proses pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte. Sidang yang disebut sebagai salah satu momen politik paling menentukan di negara itu berlangsung di tengah kekacauan parlemen, aksi baku tembak, hingga kemunculan kembali senator loyalis keluarga Duterte yang selama ini bersembunyi karena diburu Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Ketegangan mulai memuncak saat parlemen Filipina bersiap melakukan voting pemakzulan Sara Duterte pada 11 Mei lalu. Di tengah situasi tersebut, senator pro-Duterte, Ronald dela Rosa atau yang dikenal dengan julukan “Bato”, tiba-tiba muncul kembali setelah berbulan-bulan menghilang.
Kehadiran dela Rosa menjadi sorotan karena suaranya di Senat menentukan kemenangan loyalis keluarga Duterte, Alan Peter Cayetano, sebagai Presiden Senat Filipina.
Jabatan tersebut dinilai sangat strategis lantaran otomatis menempatkan Cayetano sebagai pihak yang memimpin jalannya sidang pemakzulan Sara Duterte.
Sara Duterte kini menghadapi tekanan politik terbesar sepanjang kariernya. Putri mantan Presiden Rodrigo Duterte itu dituduh menyalahgunakan dana publik, memiliki kekayaan yang tidak dapat dijelaskan sumbernya, hingga diduga mengancam keselamatan Presiden Ferdinand Marcos Jr., ibu negara, dan mantan Ketua DPR Filipina.
Meski demikian, Sara Duterte membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Hingga kini belum ada kepastian kapan persidangan resmi dimulai. Presiden Marcos sendiri memilih menjaga jarak dan menyebut proses pemakzulan merupakan urusan legislatif.
Padahal, Marcos dan Duterte sebelumnya dikenal sebagai pasangan politik paling kuat di Filipina usai memenangkan pemilu 2022. Namun hubungan keduanya mulai retak setelah pemerintahan Marcos menyerahkan Rodrigo Duterte kepada ICC terkait kasus perang melawan narkoba yang menewaskan ribuan orang.
Rodrigo Duterte kini tengah menunggu proses persidangan di ICC atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Kembalinya dela Rosa ke Senat diyakini mengubah peta kekuatan politik di parlemen Filipina. Dari total 24 senator yang akan bertindak sebagai juri dalam sidang pemakzulan, sejumlah di antaranya diketahui memiliki kedekatan dengan keluarga Duterte.
Untuk menjatuhkan vonis bersalah terhadap Sara Duterte, dibutuhkan dukungan dua pertiga anggota Senat.
“Dengan mayoritas baru yang sekarang terbentuk berkat upaya Senator Bato, proses penuntutan terhadap Wakil Presiden Sara di pengadilan pemakzulan menjadi sedikit lebih sulit,” ujar profesor administrasi publik Universitas Makati, Ederson Tapia, seperti dikutip Reuters.
Drama politik semakin memanas setelah dela Rosa muncul usai enam bulan bersembunyi. Mantan kepala kepolisian Filipina itu sempat berlindung di gedung Senat yang dijaga ketat aparat keamanan.
Situasi berubah ricuh ketika muncul kabar bahwa aparat akan segera menangkap dela Rosa. Keributan pun pecah hingga terdengar suara tembakan di area gedung parlemen sebelum sang senator berhasil melarikan diri beberapa jam kemudian.
Sebagai mantan pelaksana utama operasi perang narkoba Rodrigo Duterte, dela Rosa yang kini berusia 64 tahun turut dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pemerintahan Marcos pekan lalu memastikan akan mengupayakan penangkapan terhadap dela Rosa. Namun hingga kini keberadaannya belum diketahui.
Dela Rosa membantah seluruh tuduhan dan mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung Filipina untuk menghentikan upaya penangkapannya. Ia beralasan surat penangkapan dari pengadilan asing tidak memiliki dasar hukum di Filipina, meski argumen tersebut telah ditolak pejabat hukum tertinggi pemerintah setempat.