ESTORIA - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Angkatan Darat Iran melontarkan ancaman keras kepada Amerika Serikat dan Israel. Teheran menegaskan tidak akan tinggal diam apabila kembali mendapat serangan, bahkan mengklaim siap membuka “front perang baru” dengan strategi dan persenjataan yang berbeda.
Peringatan itu disampaikan Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, dalam sebuah pertemuan publik di Lapangan Valiasr, Teheran. Dalam pidatonya, Akraminia menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak akan bisa ditekan maupun dikalahkan melalui ancaman militer.
“Jika musuh kembali melakukan kesalahan dan jatuh ke dalam perangkap Zionis dengan melancarkan agresi baru terhadap Iran, kami akan membuka front baru dengan alat dan metode yang berbeda,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Iran tengah menyiapkan eskalasi baru di tengah situasi regional yang belum benar-benar stabil pasca konflik besar beberapa waktu terakhir.
Akraminia juga mengungkapkan bahwa masa gencatan senjata tidak dimanfaatkan Iran untuk bersantai. Sebaliknya, periode itu justru disebut sebagai momentum memperkuat kemampuan tempur dan konsolidasi militer.
Menurutnya, Angkatan Bersenjata Iran tetap berada dalam posisi siaga penuh meski gencatan senjata telah berlangsung sejak awal April lalu.
Tak hanya itu, Iran juga kembali menegaskan dominasinya di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang menjadi urat nadi distribusi energi global. Akraminia menyebut situasi di kawasan tersebut “tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya”.
Ia menegaskan bahwa Iran kini memegang kendali penuh atas selat tersebut dan menuntut negara-negara lawan untuk menghormati hak-hak Republik Islam Iran jika ingin menghindari konflik lebih besar.
“Satu-satunya jalan bagi musuh adalah menghormati bangsa Iran dan mematuhi hak-hak sah Republik Islam Iran,” ujarnya.
Ketegangan ini bermula setelah Amerika Serikat dan Israel disebut melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu diklaim menargetkan sejumlah fasilitas strategis, termasuk instalasi nuklir, sekolah, hingga rumah sakit.
Iran kemudian membalas melalui lebih dari 100 gelombang serangan dalam operasi militer bertajuk “True Promise 4”. Sejak saat itu, Teheran memberlakukan aturan maritim baru di Selat Hormuz dengan mewajibkan seluruh kapal asing memperoleh izin Iran sebelum melintas.
Meski gencatan senjata yang dimediasi Pakistan telah berlaku, Iran menilai tekanan terhadap negaranya belum berakhir. Blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap sejumlah pelabuhan Iran disebut masih berlangsung hingga kini.
Pemerintah Iran bahkan bersumpah tidak akan membuka kembali akses normal di Selat Hormuz sampai blokade dicabut sepenuhnya dan situasi perang dinyatakan benar-benar berakhir permanen.