ESTORIA - Harapan baru untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah mulai terlihat. Iran dan Amerika Serikat dikabarkan telah mencapai draf awal kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sekaligus membuka jalan menuju perundingan damai permanen.
Kesepakatan tersebut disebut menjadi titik penting dalam upaya menghentikan konflik berkepanjangan yang pecah sejak 28 Februari lalu. Jika benar-benar terealisasi, langkah ini berpotensi menjadi momentum terbesar menuju perdamaian setelah berbulan-bulan kawasan Timur Tengah dilanda ketegangan militer dan ancaman perang terbuka.
Dilansir dari berbagai sumber, draf perjanjian itu tidak hanya membahas penghentian sementara konflik, tetapi juga mencakup sejumlah poin strategis yang selama ini menjadi sumber perselisihan kedua negara.
Salah satu poin utama dalam kesepakatan adalah pencabutan pembatasan pengiriman dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia yang selama ini menjadi pusat ketegangan geopolitik.
Selain itu, Amerika Serikat juga disebut akan mulai melonggarkan blokade terhadap pelabuhan Iran serta mencabut sebagian sanksi yang berkaitan dengan penjualan minyak Teheran. Langkah tersebut dinilai dapat memberi ruang bagi pemulihan ekonomi Iran yang selama bertahun-tahun tertekan embargo internasional.
Meski demikian, proses menuju kesepakatan final masih belum sepenuhnya mulus. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan belum memberikan persetujuan resmi terhadap draf tersebut. Di sisi lain, pemerintah Iran juga belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait isi kesepakatan yang tengah dibahas.
Kantor berita Iran, Tasnim, mengutip sumber yang mengetahui proses negosiasi menyebut bahwa teks perjanjian masih belum final dan masih menunggu konfirmasi dari kedua pihak.
Di tengah situasi yang masih dinamis, Wakil Presiden AS JD Vance mengaku optimistis peluang tercapainya perdamaian semakin terbuka lebar.
“Kita belum sampai di sana, tetapi kita sudah sangat dekat dan kita akan terus berupaya,” ujar Vance seperti dikutip Reuters.
“Saya tidak dapat menjamin bahwa kita akan sampai di sana, tetapi saat ini saya merasa cukup optimistis,” lanjutnya.
Pemerintahan Trump sendiri beberapa kali mengklaim bahwa kesepakatan damai tinggal menunggu waktu. Namun Iran berkali-kali membantah pernyataan tersebut dan menilai Washington terlalu cepat menggiring opini publik.
Teheran menegaskan bahwa perdamaian hanya dapat tercapai jika Amerika Serikat benar-benar mencabut sanksi ekonomi, membuka blokade aset Iran di luar negeri, serta menarik pasukan militernya dari kawasan Timur Tengah.
Tak hanya itu, Iran juga menuntut agar setiap kesepakatan damai mencakup penghentian serangan Israel di Lebanon, yang dinilai turut memperkeruh situasi regional.
Hingga kini, dunia internasional masih menanti apakah draf kesepakatan tersebut benar-benar akan disahkan atau kembali berujung buntu di meja diplomasi. Namun satu hal yang pasti, peluang terciptanya perdamaian kini mulai terbuka setelah berbulan-bulan konflik memicu kekhawatiran global.