ESTORIA – Pemerintah resmi akan menerapkan biodiesel B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan di sektor transportasi.

 

Menyambut kebijakan tersebut, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mulai mempersiapkan berbagai langkah teknis guna memastikan operasional kereta api berbahan bakar diesel tetap berjalan aman, andal, dan nyaman bagi masyarakat.

 

KAI menegaskan bahwa penggunaan biodiesel bukan hal baru di lingkungan perusahaan. Sebelumnya, operator transportasi rel terbesar di Indonesia itu telah melalui tahapan penggunaan biodiesel B35 hingga B40 sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional.

 

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan pihaknya mendukung penuh langkah pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi terbarukan. Namun, ia menegaskan bahwa aspek keselamatan dan kualitas layanan tetap menjadi prioritas utama.

 

"KAI mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan. Pada setiap tahapan implementasinya, aspek keselamatan, keandalan sarana, dan kualitas layanan tetap menjadi perhatian utama," ujar Anne, Minggu (31/05/2026).

 

Komitmen terhadap transportasi yang lebih ramah lingkungan juga tercermin dari penggunaan biodiesel B40 sepanjang 2025. Selama periode tersebut, layanan Kereta Api Jarak Jauh yang dioperasikan KAI melayani sekitar 47,4 juta pelanggan dengan total emisi karbon tercatat sebesar 127,3 ribu ton CO₂e.

 

Sementara pada periode Januari hingga April 2026, layanan kereta api jarak jauh dan lokal KAI telah mengangkut lebih dari 19,2 juta pelanggan dengan tetap mengandalkan bahan bakar berbasis biodiesel pada armada diesel yang beroperasi.

 

Di tengah tingginya mobilitas masyarakat, moda transportasi berbasis rel masih menjadi salah satu pilihan yang relatif lebih ramah lingkungan. Berbagai studi menunjukkan emisi kereta api berada pada kisaran 15 hingga 40 gram CO₂ per penumpang per kilometer, jauh lebih rendah dibanding kendaraan pribadi yang dapat menghasilkan emisi sekitar 120 hingga 250 gram CO₂ per penumpang per kilometer.

 

Untuk mendukung implementasi B50, KAI bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta LEMIGAS melakukan serangkaian pengujian sejak pertengahan April 2026.

 

Pengujian dilakukan secara bertahap, mulai dari proses pencampuran bahan bakar (blending), pemeriksaan kondisi sarana, hingga uji operasional pada berbagai armada kereta berbasis diesel.

 

Pada lokomotif, pengujian dipusatkan di Depo Sidotopo dengan fokus memantau performa mesin serta konsumsi bahan bakar selama penggunaan B50. Tim teknis mengamati karakteristik pembakaran, kestabilan performa mesin, dan efisiensi operasional guna memastikan armada tetap bekerja optimal dalam aktivitas harian.

 

Sementara itu, pengujian pada kereta pembangkit dilakukan di Depo Kereta Yogyakarta. Fokus pengujian meliputi konsumsi bahan bakar dan pemeriksaan berkala setiap 300 jam operasi. Tahapan tersebut dilakukan dengan membandingkan penggunaan B40 dan B50 untuk mengetahui respons sarana dalam berbagai kondisi perjalanan.

 

KAI juga telah menyiapkan pengujian lanjutan dalam jangka panjang untuk memastikan ketahanan sarana tetap terjaga ketika beroperasi secara intensif di lapangan. Hingga kini, seluruh hasil pengujian masih dalam tahap evaluasi bersama pemerintah dan tim teknis terkait.

 

Anne menegaskan bahwa percepatan implementasi biodiesel B50 harus dibarengi dengan kesiapan yang matang agar standar keselamatan transportasi publik tetap terjaga.

 

"Percepatan implementasi B50 memerlukan kesiapan yang terukur agar tetap selaras dengan standar keselamatan dan kualitas layanan transportasi publik. KAI terus memperkuat koordinasi dan pengujian teknis agar implementasinya dapat berjalan optimal dan berkelanjutan," pungkasnya.