ESTORIA - Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 tidak hanya menjadi forum strategis untuk merumuskan arah perjalanan organisasi ke depan. Lebih dari itu, agenda akbar yang mempertemukan para kiai dan tokoh NU dari berbagai daerah tersebut juga dirancang sebagai perjalanan spiritual yang menelusuri kembali akar sejarah lahirnya jam’iyah terbesar di Indonesia.
Tahun ini, penyelenggaraan Munas-Konbes NU digelar di dua titik yang memiliki nilai historis dan pesan simbolik yang kuat. Seluruh rangkaian pembukaan serta sidang komisi berlangsung di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, sejak 20 hingga 22 Juni 2026.
Sementara itu, prosesi penutupan akan dipusatkan di kampus Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Kholil, Bangkalan, Madura, pada Selasa (23/06/2026). Pemilihan dua lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Keduanya dianggap merepresentasikan mata rantai sejarah panjang pesantren yang menjadi fondasi berdirinya Nahdlatul Ulama.
Ketua Steering Committee (SC) Munas-Konbes NU 2026, KH Akhmad Said Asrori, mengatakan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso dipilih sebagai lokasi utama karena memiliki hubungan yang sangat erat dengan perjalanan NU sejak awal berdiri.
“NU dan pesantren adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. NU lahir, tumbuh, dan berkembang dari tradisi pesantren yang hingga hari ini tetap menjadi ruh utama organisasi,” ujar Kiai Said, Senin (22/06/2026).
Menurutnya, Al-Falah Ploso bukan sekadar lembaga pendidikan Islam, melainkan salah satu pusat kaderisasi ulama yang telah melahirkan ribuan tokoh agama, intelektual, serta penggerak NU yang kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Dari lingkungan pesantren seperti inilah, lanjutnya, nilai-nilai keislaman moderat, tradisi keilmuan, dan semangat pengabdian kepada masyarakat terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun perjalanan Munas-Konbes NU tahun ini tidak berhenti di Kediri. Setelah menyelesaikan seluruh agenda persidangan, ribuan peserta akan bergerak menuju Bangkalan, Madura, untuk mengikuti prosesi penutupan yang sarat makna historis.
Bagi NU, Bangkalan bukan sekadar sebuah daerah di Pulau Madura. Kota ini menyimpan jejak penting yang menjadi bagian dari kisah lahirnya Nahdlatul Ulama.
Kiai Said menjelaskan, pemindahan lokasi penutupan ke Bangkalan dimaksudkan sebagai upaya menghidupkan kembali memori kolektif warga NU, khususnya generasi muda, terhadap sejarah perjuangan para pendiri organisasi.
“Titik awal sejarah NU memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan Bangkalan. Ada nilai historis sekaligus ruh spiritual yang perlu terus diwariskan kepada generasi penerus,” katanya.
Bangkalan dikenal sebagai tempat berkiprah Syaikhona Muhammad Cholil, ulama kharismatik yang memiliki peran besar dalam lahirnya Nahdlatul Ulama. Dalam catatan sejarah NU, Syaikhona Kholil disebut memberikan tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari sebagai simbol restu sekaligus isyarat untuk mendirikan organisasi yang kemudian bernama Nahdlatul Ulama.
Peristiwa tersebut hingga kini diyakini sebagai salah satu momentum spiritual yang mengawali lahirnya NU pada 1926.
Karena itu, penutupan Munas-Konbes di lingkungan IAI Syaichona Kholil Bangkalan dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap mata rantai sejarah dan perjuangan para muassis yang telah meletakkan fondasi organisasi.
Dalam rangkaian penutupan nanti, peserta dijadwalkan mengikuti mujahadah dan tawasul bersama untuk mendoakan para pendiri NU sekaligus memohon keberkahan bagi perjalanan organisasi dan bangsa Indonesia.
Melalui doa-doa yang dipanjatkan di tanah yang lekat dengan jejak Syaikhona Kholil tersebut, para peserta berharap NU terus diberikan kekuatan untuk menjaga persatuan umat, merawat nilai-nilai kebangsaan, dan mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Melalui ketukan pintu langit di bumi Syaikhona Kholil ini, kami berharap Nahdlatul Ulama senantiasa memperoleh keberkahan, kemaslahatan, serta keselamatan dalam menjalankan khidmahnya kepada umat, bangsa, dan negara,” pungkas Kiai Said.