ESTORIA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi solusi pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di Kabupaten Sumenep justru menyisakan pertanyaan besar.
Di tengah besarnya jumlah sasaran yang mencapai lebih dari 107 ribu jiwa, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep mengaku tidak mengetahui secara pasti berapa warga yang sudah menerima manfaat program tersebut.
Ironisnya, instansi yang memegang data sasaran itu mengaku hingga kini belum pernah menerima laporan resmi dari dapur penyelenggara maupun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengenai realisasi penyaluran MBG kepada kelompok B3 (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita).
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes P2KB Sumenep, Desy Febryana, mengatakan pihaknya hanya bertugas menyiapkan dan menyerahkan data calon penerima manfaat. Adapun urusan distribusi sepenuhnya berada di tangan dapur penyelenggara dan SPPG.
"Kalau proses penerimaannya, kami hanya terkait data. Untuk penerimaan dan distribusinya dari SPPG atau dapur," kata Desy.
Pernyataan itu memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme pengawasan program yang menggunakan anggaran negara tersebut. Sebab, meski data sasaran telah diserahkan, Dinkes P2KB ternyata tidak memiliki informasi mengenai berapa jumlah warga yang benar-benar menerima makanan bergizi gratis.
Menurut Desy, hingga saat ini pihaknya hanya memperoleh informasi bahwa penyaluran baru berjalan di sejumlah desa dan belum mencakup seluruh wilayah.
"Masih beberapa desa. Belum semua desa di setiap kecamatan. Masih bertahap," ujarnya.
Padahal berdasarkan data Dinkes P2KB, jumlah sasaran MBG kelompok B3 di Kabupaten Sumenep mencapai 107.175 jiwa, terdiri dari 67.020 balita, 26.247 ibu menyusui, dan 13.908 ibu hamil.
Besarnya jumlah sasaran tersebut belum diimbangi dengan transparansi data realisasi penerima. Dinkes P2KB mengaku tidak memiliki angka pasti terkait warga yang sudah menikmati program tersebut sepanjang tahun 2026.
Desy menegaskan seluruh data sasaran telah diberikan kepada dapur penyelenggara yang mengajukan permohonan. Namun tidak semua dapur disebut meminta data kepada Dinkes P2KB.
"Kalau SPPG meminta, kami berikan datanya. Ada nota dinas juga dari kami. Yang tidak meminta, tidak kami berikan," katanya.
Kondisi ini menimbulkan celah koordinasi antarinstansi dalam pelaksanaan MBG di daerah. Di satu sisi, Dinkes P2KB memiliki data sasaran. Di sisi lain, pelaksana program berada di bawah SPPG dan dapur penyelenggara. Namun hingga kini tidak ada laporan yang dapat menunjukkan sejauh mana program tersebut telah menjangkau kelompok rentan yang menjadi target utama.
Padahal MBG untuk kelompok B3 merupakan program strategis yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai upaya pencegahan stunting serta peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Sumenep, M. Kholilur Rahman, belum memberikan keterangan terkait jumlah penerima maupun progres distribusi MBG bagi kelompok B3. Hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum merespons upaya konfirmasi.