ESTORIA – Klaim Pertamina Patra Niaga yang menyebut distribusi bahan bakar minyak (BBM) berjalan optimal berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan. Pada Senin (29/06/2026), sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Sumenep, Madura, dilaporkan kehabisan stok BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Bio Solar.

 

Akibatnya, masyarakat kesulitan memperoleh BBM. Antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU yang masih beroperasi, bahkan tidak sedikit pengendara tetap menunggu meski papan bertuliskan "Solar Kosong" dan "Pertalite Kosong" sudah terpampang di lokasi.

 

Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi tersebut terjadi di sejumlah SPBU, di antaranya di kawasan Pekamban, Pekandangan, Gedungan, Manding hingga Paberasan.

 

Kelangkaan BBM bersubsidi itu juga mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Sopir, petani hingga pelaku usaha kecil mengaku kesulitan menjalankan pekerjaan akibat sulit memperoleh bahan bakar.

 

Rofiki (30), seorang sopir travel, mengaku terpaksa mengantre sejak siang meski mengetahui stok solar telah habis. Ia berharap mobil tangki Pertamina segera datang agar kendaraannya bisa kembali beroperasi.

 

"Saya ambil antre duluan Mas, karena memang kehabisan solar di sini. Sudah cari di berbagai pom di Sumenep tetap saja kosong. Sementara saya butuh solar untuk melayani penumpang nanti malam," ujar Rofiki.

 

hal serupa dialami Ahmad (45), seorang petani, mengaku telah berkeliling ke beberapa SPBU, namun seluruhnya kehabisan stok Pertalite.

 

"Saya sudah ke empat SPBU, semuanya kosong. Ini sangat menyulitkan pekerjaan saya sebagai petani," katanya.

 

Tidak hanya itu, meluhan serupa disampaikan Fariadi (38), pedagang kecil yang mengaku biaya operasional usahanya meningkat karena harus menghabiskan waktu mencari BBM.

 

"Kalau harus beli di tempat lain atau antre lama, waktu dan biaya jadi bertambah. Kami berharap pasokan segera normal," ucapnya.

 

Masyarakat berharap Pertamina bersama pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk memulihkan distribusi BBM bersubsidi di seluruh SPBU di Kabupaten Sumenep agar aktivitas ekonomi tidak semakin terganggu.

 

Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) sebelumnya memastikan pasokan energi bagi masyarakat tetap aman. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyebut pihaknya telah mengoptimalkan seluruh rantai pasok distribusi BBM.

 

"Dalam sepekan terakhir, Pertamina mengoptimalkan penyaluran BBM dengan volume di atas rata-rata konsumsi normal harian sebagai bagian dari upaya menjaga keandalan pasokan di wilayah Jawa Timur. Penyaluran dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing SPBU agar masyarakat tetap dapat memperoleh BBM dengan mudah," kata Ahad dalam keterangan resminya.

 

Menurut Ahad, hingga saat ini realisasi penyaluran Pertalite telah mencapai 96,6 persen, sedangkan Bio Solar mencapai 103,3 persen dari kuota kumulatif tahun berjalan.

 

 "Angka tersebut mencerminkan komitmen Pertamina untuk terus memastikan distribusi BBM berjalan optimal sehingga kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi dengan baik," ujarnya.

 

Ia menambahkan, Pertamina juga mengoperasikan seluruh Fuel Terminal (FT) dan Integrated Terminal (IT) di Jawa Timur selama 24 jam, serta menerapkan skema alih suplai dari Integrated Terminal Tanjungwangi, Fuel Terminal Malang, Madiun, Tuban hingga Boyolali untuk memperkuat keandalan distribusi.

 

"Sinergi antarterminal ini memastikan distribusi BBM di wilayah Jawa Timur tetap berjalan lancar sehingga kebutuhan masyarakat dapat terus terpenuhi," tutur Ahad.

 

Meski demikian, kondisi di sejumlah SPBU di Kabupaten Sumenep pada Senin (29/06/2026) menunjukkan stok Pertalite dan Bio Solar masih kosong di beberapa titik.