ESTORIA - SD Muhammadiyah 1 Trenggalek atau SD Inovatif resmi memutuskan tidak lagi mengikuti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun ajaran 2026/2027. Setelah hampir delapan bulan menjalankan program pemerintah tersebut, pihak sekolah memilih kembali mengandalkan program makan siang mandiri yang telah diterapkan sejak sekolah berdiri.
Kepala SD Inovatif Trenggalek, Ikhsan Nur Wahyudi, menegaskan keputusan tersebut bukan berarti sekolah menolak program pemenuhan gizi bagi siswa. Keputusan diambil setelah melalui evaluasi menyeluruh dalam rapat kerja internal yang digelar pekan ini.
Menurut Ikhsan, salah satu alasan utama adalah berkurangnya waktu belajar di kelas. Proses distribusi makanan MBG setiap hari membutuhkan waktu sekitar 30 menit, sehingga mengurangi jam pembelajaran yang dinilai sangat berharga bagi siswa.
"Distribusi makanan membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Bagi kami, durasi itu cukup besar karena mengurangi waktu efektif belajar anak-anak di kelas," ujarnya, Minggu (12/07/2026).
Selain persoalan waktu, sekolah juga menyoroti banyaknya makanan yang tidak habis dikonsumsi siswa. Kondisi tersebut dinilai memicu pemborosan dan bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini ditanamkan kepada peserta didik.
"Sisa makanan yang terbuang cukup banyak. Itu sangat disayangkan karena perilaku mubazir harus dihindari," katanya.
Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah kondisi ekonomi mayoritas orang tua siswa. Pihak sekolah menilai sebagian besar keluarga mampu menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak mereka, sehingga bantuan pemerintah dinilai lebih tepat diarahkan kepada sekolah yang siswanya lebih membutuhkan.
"Kami merasa masih banyak sekolah lain yang siswanya jauh lebih membutuhkan program makan bergizi ini," tambah Ikhsan.
Sebagai alternatif, SD Inovatif kembali mengoptimalkan program makan siang mandiri yang selama ini telah menjadi bagian dari budaya sekolah. Program tersebut dijalankan bersama dapur mitra dengan sistem penyajian makanan dalam wadah besar, sehingga siswa dapat mengambil porsi sesuai kebutuhan dan menambah makanan jika masih lapar.
Sekolah juga memiliki keleluasaan untuk mengevaluasi kualitas makanan, mengganti menu, hingga menyesuaikannya dengan masukan dari siswa maupun orang tua. Fleksibilitas itu dinilai menjadi keunggulan dibandingkan skema MBG yang seluruh menu dan mekanismenya telah diatur dalam petunjuk teknis pemerintah.
"Program makan siang mandiri ini sudah berjalan sejak sekolah berdiri dan mendapat dukungan dari mayoritas wali murid. Jika ada menu yang kurang cocok atau kualitasnya menurun, kami bisa langsung melakukan evaluasi bersama pihak dapur. Variasi menu pun dapat kami atur sendiri agar anak-anak tidak bosan," pungkasnya.