ESTORIA — Kabupaten Sumenep kehilangan salah satu putra terbaiknya. Anggota DPRD Sumenep dari Fraksi PDI Perjuangan, Abd Rahman, dikabarkan meninggal dunia pada Senin (06/07/2026).

 

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan kolega di parlemen, tetapi juga masyarakat yang selama ini mengenalnya sebagai sosok sederhana, rendah hati, dan tulus mengabdi.

 

Di balik jabatannya sebagai legislator, Abd Rahman dikenal sebagai pribadi yang tidak pernah membangun citra mewah. Ia justru lebih senang dikenal melalui kerja nyata. Filosofi hidupnya sederhana, namun membekas di hati banyak orang.

 

"Saya bukan keturunan pejabat, bukan anak kepala desa, anak pak RT pun nggak. Di sisa hidup ini, saya hanya ingin bermanfaat untuk masyarakat," ujar Abd Rahman saat berbincang dengan redaksi Estoria di Café Rassa, pada (28/10/2025).

 

Kalimat itu kini menjadi kenangan sekaligus warisan moral yang terus dikenang.

 

Perintis, Bukan Pewaris

 

Di kalangan masyarakat maupun rekan sejawat, Abd Rahman akrab dijuluki "Sang Perintis Bukan Pewaris." Julukan itu bukan tanpa alasan.

 

Ia lahir di Pamekasan, 8 April 1975, kemudian dibesarkan di Desa Larangan Perreng, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep setelah kedua orang tuanya, Sa'rawi dan Jiya, menetap di wilayah tersebut.

 

Terlahir dari keluarga petani sederhana, Abd Rahman tumbuh dengan nilai kerja keras yang kuat.

 

"Bapak saya petani. Ibu juga petani. Sampai sekarang, saya pun masih bertani, masih pelihara sapi," tuturnya kala itu.

 

Sebelum menjadi anggota DPRD, perjalanan hidupnya jauh dari kata mudah. Ia pernah menjadi buruh, berdagang, hingga bekerja sebagai tenaga kredit keliling di Jember selama enam tahun.

 

Usai krisis moneter tahun 2000, ia kembali ke Madura. Demi menghidupi keluarga, Abd Rahman berdagang garam dan sapu lidi yang dipasok hingga ke Malang.

 

"Di Jember itu enam tahun saya kerja kredit, lalu pindah dagang sapu lidi dan garam, aku kirim ke Malang," kenangnya.

 

Perjalanan itu kemudian membawanya ke dunia konstruksi. Pada 2015 ia dipercaya menjadi Direktur CV Elang Mas, jabatan yang akhirnya ia tinggalkan demi mengikuti panggilan pengabdian di dunia politik.

 

Tak Pernah Mengejar Jabatan

 

Keputusan maju sebagai calon legislatif pada Pemilu 2024 bukanlah ambisi pribadi.

 

Bahkan Abd Rahman mengaku sempat merasa tidak percaya diri memasuki dunia politik.

 

"Saya ini orang ndak tahu apa-apa, bos. DPR kan tempatnya orang pinter," katanya sambil tersenyum.

 

Namun dorongan masyarakat membuatnya mantap melangkah. 

 

“Kalau masyarakat berkehendak, ya saya jalan. Kalau tidak, ya sudah. Yang penting saya niat kerja untuk masyarakat," ujarnya.

 

Bagi Abd Rahman, jabatan hanyalah amanah.

 

"Soal lima tahun setelah ini saya harus ngapain, biarkan takdir mengalir apa adanya," ucapnya.

 

Pada 21 Agustus 2024, ia resmi dilantik sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumenep periode 2024–2029.

 

Ia dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Komisi II, sekaligus menjadi Anggota Badan Musyawarah (Bamus) dan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sumenep.

 

Ia mewakili Daerah Pemilihan III yang meliputi Kecamatan Pragaan, Ganding, dan Guluk-Guluk. 

 

Pengabdian yang Selalu Terasa

 

Abd Rahman bukan tipe legislator yang gemar membuat janji besar.

Ia justru percaya bahwa pengabdian harus dapat langsung dirasakan masyarakat.

 

Dalam setiap agenda reses, ia berusaha membawa bantuan yang benar-benar dibutuhkan warga.

 

"Setiap reses, saya usahakan ada sesuatu yang bisa langsung dirasakan masyarakat. Bulan depan insyaallah saya bawa genset untuk kebutuhan tani warga. Reses selanjutnya mungkin terop," ujarnya.

 

Prinsip itu pula yang membuatnya dikenal dekat dengan masyarakat di daerah pemilihannya.

 

Tetap Mengajar Meski Sudah Jadi Anggota Dewan

 

Di tengah kesibukan sebagai legislator, Abd Rahman tidak pernah meninggalkan dunia pendidikan.

 

Ia pernah menjadi Kepala MI Mambaul Ihsan Larangan Perreng pada 2021–2023 dan hingga kini masih menyempatkan diri mengajar setiap pekan.

 

"Walaupun hanya sekali dalam seminggu, saya tetap datang. Karena mengajar itu ibadah," katanya.

 

Ia juga aktif membina kegiatan Pramuka serta membantu berbagai kebutuhan sekolah secara sukarela.

 

Hibahkan Tanah Demi Layanan Kesehatan

 

Salah satu bentuk pengabdian yang paling dikenang adalah ketika Abd Rahman menghibahkan tanah milik pribadinya untuk pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Larangan Perreng.

 

Ia berharap masyarakat tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh menuju Puskesmas Pragaan.

 

"Mudah-mudahan segera dibangun, biar masyarakat nggak jauh-jauh kalau berobat," ujarnya penuh harap.

 

Aktif di NU dan Tetap Hidup Sederhana

 

Selain aktif di dunia politik, Abd Rahman juga lama mengabdikan diri di Nahdlatul Ulama.

 

Ia menjabat Bendahara NU Ranting Pragaan selama periode 2009–2022.

 

"Di NU itu saya nyaman. Kalau nggak bisa sowan ke dalemnya para kiai, kita bisa ketemu di organisasi. Itulah sejuknya hidup di organisasi," tuturnya.

 

Meski sudah menjadi anggota DPRD, kehidupannya tetap sederhana. Ia masih memelihara sapi dan kambing dengan sistem bagi hasil bersama warga.

 

Jejak yang Tak Akan Mudah Dilupakan

 

Abd Rahman meninggalkan seorang istri, Maryamah, serta dua anak yang masih hidup, Sri Wahyuni dan Diana Fahma Salsabila. Dua anaknya telah lebih dahulu berpulang.

 

Perjalanan hidupnya menjadi gambaran bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari kemewahan ataupun kekuasaan yang diwariskan.

 

Ia membangun semuanya dari bawah, melalui kerja keras, ketekunan, dan niat tulus untuk membantu sesama.

 

Kini sosok yang dikenal sebagai "Sang Perintis Bukan Pewaris" itu telah berpulang.

Namun pesan yang pernah ia sampaikan akan terus hidup di tengah masyarakat.

“Saya hanya ingin bermanfaat untuk masyarakat.”

 

Kalimat sederhana itu menjadi warisan paling berharga dari seorang Abd Rahman—legislator yang meyakini bahwa jabatan hanyalah titipan, sedangkan pengabdian adalah jejak yang akan dikenang sepanjang masa.