ESTORIA - Sejarah Indonesia pernah mencatat sebuah peristiwa yang hingga kini masih memancing tanda tanya. Di tengah sikap tegas Indonesia yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, seorang warga negara Israel justru berhasil menginjakkan kaki di Istana Merdeka dan nyaris bertemu langsung dengan Presiden Soeharto.

 

Peristiwa yang terjadi pada 1971 itu sempat menjadi perhatian luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga memicu reaksi keras dari sejumlah negara Timur Tengah. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana seorang warga negara Israel bisa masuk ke Indonesia, bahkan mencapai lingkungan Istana Presiden.

 

Tokoh yang dimaksud adalah Ted Lurie, seorang wartawan harian Jerusalem Post. Berdasarkan arsip Harian Merdeka edisi 1 September 1971, Lurie datang ke Indonesia untuk menghadiri Kongres Press Foundation of Asia di Bali sebagai perwakilan media tempatnya bekerja.

Selama berada di Bali, kehadiran Lurie nyaris tidak menimbulkan polemik. Situasi berubah ketika rombongan sekitar 15 wartawan peserta kongres melakukan kunjungan ke Jakarta, termasuk ke Istana Merdeka.

 

Di sanalah identitas Lurie sebagai warga negara Israel mulai diketahui. Fakta tersebut langsung memicu kehebohan karena pada masa itu pemerintah Indonesia tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel dan akses masuk warga negara Israel sangat dibatasi.

 

Dalam keterangannya kepada Harian Kami, Lurie mengaku sempat memasuki kompleks Istana Merdeka dan bahkan telah menandatangani buku tamu. Namun, sebelum agenda bertemu Presiden Soeharto berlangsung, ia memilih mengundurkan diri.

 

"Saya memahami bahwa kehadiran saya akan menyusahkan rekan-rekan saya. Jadi saya menarik diri meskipun sudah menandatangani buku tamu," ujar Lurie, seperti dikutip Harian Kami edisi 1 September 1971.

 

Meski pertemuan dengan Presiden Soeharto tidak pernah terjadi, kabar mengenai keberadaan wartawan Israel di Istana Merdeka telanjur menyebar luas. Publik pun mempertanyakan bagaimana hal tersebut bisa terjadi.

 

Pihak Istana saat itu membenarkan bahwa Lurie memang sempat berada di lingkungan Istana. Namun mereka menegaskan Presiden Soeharto tidak pernah menerima ataupun bertemu dengan wartawan tersebut.

 

"Kita tidak bisa mengatakan Lurie tidak ke sini. Itu tidak benar," demikian penjelasan pihak Istana sebagaimana dikutip Harian Merdeka.

 

Kejadian itu mendorong pemerintah melakukan penyelidikan. Direktorat Jenderal Imigrasi bahkan mengaku tidak mengetahui bagaimana Lurie dapat memasuki wilayah Indonesia.

 

Sementara itu, panitia Press Foundation of Asia menjelaskan bahwa Lurie hadir sebagai perwakilan organisasi pers, bukan mewakili negara Israel. Menurut panitia, menolak peserta yang telah diundang dianggap tidak etis sebagai tuan rumah penyelenggara.

 

"Sebagai tuan rumah penyelenggara tentu tidak sopan sekali untuk menolak kedatangan salah seorang peserta undangan," demikian penjelasan panitia yang dikutip Harian Kami.

 

Peristiwa tersebut juga mengundang kritik dari negara-negara Timur Tengah. Duta Besar Mesir untuk Indonesia saat itu, Ali Shawki El-Hadidi, menyebut masuknya wartawan Israel bertentangan dengan sikap politik Indonesia yang selama ini mendukung perjuangan Palestina.

 

Presiden Soeharto kemudian memerintahkan pengusutan secara menyeluruh. Hasil investigasi akhirnya mengungkap bahwa Ted Lurie memperoleh izin khusus dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura untuk menghadiri konferensi pers di Bali.

 

Arsip Harian Merdeka edisi 4 September 1971 menyebutkan bahwa surat izin khusus dari KBRI Singapura itulah yang menjadi dasar Lurie dapat memasuki Indonesia. Meski demikian, polemik yang terlanjur muncul menjadikan peristiwa tersebut sebagai salah satu kisah paling kontroversial dalam sejarah hubungan Indonesia dengan Israel.