Selain itu, BEM UI juga menyoroti isu militerisme di ruang sipil dan meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengakui kesalahan pemerintah alih-alih terus membantah kritik yang berkembang di masyarakat.

 

Tak hanya mahasiswa, BEM UI mengajak berbagai kelompok masyarakat untuk bergabung dalam aksi tersebut. Mulai dari buruh, guru, pedagang, ibu rumah tangga, hingga komunitas pelari disebut sebagai bagian dari warga yang dinilai turut merasakan dampak kebijakan pemerintah.

 

Dengan memilih Bundaran HI sebagai titik aksi, mahasiswa tampaknya sengaja mengarahkan sorotan publik ke salah satu pusat aktivitas ibu kota. Bagi BEM UI, kemacetan yang mungkin terjadi besok hanyalah gangguan sementara. Yang mereka anggap darurat adalah kondisi yang disebut sebagai "kemacetan masa depan" yang dinilai terus membelit rakyat tanpa solusi nyata.