"Beliau juga sudah kita undang datang ke sini, tetapi tidak berkenan untuk hadir datang ke sini," kata Masduki.
Meski enggan tampil di depan publik, nama Ibnu Harjo Al-Jawi justru sangat dikenal di lingkungan akademik internasional. Berbagai hasil tahqiq kitab klasik yang dikerjakannya menjadi referensi penting dalam kajian Islam, mulai dari bidang fikih, tasawuf, hingga disiplin ilmu keislaman lainnya.
"Jadi Ibn Harjo Aljawi sangat dikenal di dunia internasional, walaupun sehari-harinya dikenal sebagai tukang bangunan, berasal dari Kudus, Jawa Tengah," tutur Masduki.
Tahqiq sendiri merupakan proses penyuntingan ilmiah terhadap manuskrip klasik untuk menghadirkan teks yang paling mendekati naskah asli karya pengarangnya. Seorang muhaqqiq harus membandingkan berbagai manuskrip, mengoreksi kesalahan penyalinan, menelusuri perbedaan redaksi, hingga memberikan catatan ilmiah agar isi kitab dapat dipahami secara utuh. Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian tinggi, penguasaan bahasa Arab, serta pemahaman mendalam terhadap tradisi keilmuan Islam.
Keahlian itulah yang mengantarkan Mbah Riyan dikenal di berbagai kalangan ulama dunia. Salah satu jejak keilmuannya terlihat saat ia mempresentasikan hasil tahqiq Kitab Tahrir karya Syekhul Islam Zakariya Al-Anshari di hadapan ulama Mesir, Syekh Abdul Aziz As-Syahawi. Momen tersebut menunjukkan bahwa hasil penelitian seorang ulama dari Kudus mampu mendapat perhatian di forum keilmuan internasional.