Selain itu, Mbah Riyan juga menuntaskan tahqiq terhadap kitab fikih populer di pesantren, Fathul Mu'in. Dalam proses penyuntingannya, ia membandingkan tujuh edisi kitab cetak dengan satu manuskrip asli untuk memperoleh teks yang paling akurat. Metode tersebut menjadi standar penting dalam dunia tahqiq karena memastikan keaslian dan validitas isi kitab.

 

Penghargaan MUI Award 2026 menjadi pengakuan atas perjalanan panjang Mbah Riyan yang selama ini lebih banyak bekerja dalam senyap. Di tengah kehidupan sederhananya sebagai tukang bangunan di Kudus, ia terus menjaga dan merawat warisan intelektual Islam melalui karya-karya ilmiah yang kini menjadi rujukan di berbagai belahan dunia.

 

Kisah Mbah Riyan membuktikan bahwa pengabdian terhadap ilmu tidak ditentukan oleh profesi ataupun popularitas. Dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah, kerja sunyi seorang tukang bangunan berhasil mengantarkan namanya sejajar dengan para cendekiawan yang berkontribusi dalam pelestarian literatur Islam di tingkat internasional.